Wartawan Menulis Buku ‘Di Tepi Amu Darya’

    0
    68

    JAKARTA, Teguh Santosa wartawan senior RMOL menulis sebuah buku “Di Tepi Amu Darya’. Buku ini mengisahkan perjalanan Teguh selama bertugas di berbagai daerah di dunia. Diantaranya, daerah Amu Darya, wilayah di Uzbekistan perbatasan dengan Afghanistan dan Turkmenistan.

    Buku ini dia tulis setelah 17 tahun bertugas sebagai wartawan. Tentu, banyak kisah positif yang bermanfaat bagi para wartawan. Dan, kenapa dilounching di Pressroom DPR atau Media Center Parlemen? “Karena saya pernah bertugas di sini untuk kemudian ditugaskan oleh Rakyat Merdeka ke Amu Darya,” cerita Teguh.

    Dalam catatan Wikipedia, Amu Darya berasal dari bahasa Persia, yang juga disebut Oxus dan Sungai Amu, yaitu merupakan sungai utama di Asia Tengah. Sungai itu dibentuk oleh persimpangan Vakhsh dan sungai Panj. Pada zaman kuno, sungai dianggap sebagai batas antara Iran dan Turan.

    Nama Amu berasal dari nama kota yang bernama Āmul, sekarang dikenal sebagai Turkmenabat, di Turkmenistan modern.

    Karena itu Dewan Kehormatan Persatuan Wartawan Indonesia (DK-PWI) Ilham Bintang, menilai jika tugas wartawan sangat berat, karena setiap harinya banyak tugas yang dibebankan untuk ditulis.

    “Hanya saja dia menyayangkan meski pandai menulis berita, tapi banyak wartawan yang tak mampu atau tak sempat menulis sebuah buku. Baik buku ilmiah, laporan peristiwa, cerita, novel, dan sebagainya. Semoga buku ini bisa menjadi inspirasi bagi wartawan untuk bisa menulis ke dalam sebuah buku,” tutur Ilham di Kompleks Parlemen, Senayan Jakarta, Kamis (20/12/2018).

    Hadir dalam diskusi buku ini antara lain anggota Komisi I DPR RI FPDIP Effendi Simbolon, Teguh Santosa, pengamat Timur Tengah Alto Luger, dan Novelis Ahmad Fuadi.

    Buku setebal 248 halaman ini terdapat pengantar oleh Menkominfo RI Rudiantara, Dahlan Iskan, Ilham Bintang, dan Jaya Suprana.

     

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here