MPR: Etika Politik Pilpres Harus Menjadi Kesadaran Bersama

0
61

JAKARTA, Menipisinya nilai-nilai moral dan etika dalam pilpres dan pileg 2019 ini menjadi kewajiban para elit dan kesadaran bersama untuk memperbaikinya kembali. Termasuk masyarakat sendiri pentingnya memahami tujuan berpolitik itu untuk mewujudkan keadilan, kesejahteraan,  kedaulatan, harkat, dan martabat bangsa.

“Saat ini bukan saja elit politik yang tidak beretika, tapi rakyat juga sama. Bayangkan mereka sudah berpandangan caleg itu tak akan dipilih jika tak ada uang atau money politics,” tegas anggota MPR RI dari Kelompok DPD RI Akhmad Muqowam.

Hal itu disampaikan Muqowam dalam diskusi Empat Pilar MPR ‘Etika Politik dalam Pemilu 2019’ bersama anggota MPR RI dari Fraksi NasDem, Johnny G Plate, dan pakar psikologi politik, Dr. Irfan Aulia di Kompleks Parlemen, Senayan Jakarta, Senin (11/3/2019).

Karena itu kata Muqowam, yang kini menjadi caleg DPR RI dari PPP Dapil Jatim 1, Ketuhanan Yang Maha Esa dalam sila pertama Pancasila itu, kini menjadi ‘Keuangan Yang Maha Kuasa.’

Sehingga Wakil Ketua DPD itu mengistilahkan dengan sindiran kata Jawa, ‘Teko-muni-kasi; jika teko (datang), muni (kampanye), dan kasi (tidak memberi uang), maka tak akan dipilih. “Jadi, selama mengikuti lima (5) pemilu, kali ini adalah yang terberat. Berat menghadapi masyarakat,” ujarnya.

Khusus money politics lanjut Muqowam, karena ketidakpahaman masyarakat dan elit terhadap Pancasila dan tujuan berpolitik. Sehingga dalam kontestasi politik saat ini menghalalkan segala cara dan penuh hoaks. “Hoaks, fitnah pun dihalalkan,” kata Muqowam.

Jhonny juga sangat prihatin dengan kondisi politik saat ini. Dimana ruang publik dalam pilpres ini dipenuhi dengan hoaks. “Padahal semua memahami jika hoaks, fitnah itu merugikan dan membodohi masyarakat sendiri,” ungkapnya.

Namun demikian kata Irfan, masyarakat yang memilih dalam pemilu tersebut berdasarkan tiga hal; yaitu karena sama partainya, kedua value atau nilai bobot masing-masing capres atau caleg sama, dan ketiga hanya emosi-nya yang berbeda.

“Nah, emosi itu bisa menyatukan dan sebaliknya bisa memecah-belah bangsa. Untuk itu ribuan hoaks bermunculan. Sehingga tinggal bagaimana para elit mengelola emosi yang positif dan bukannya yang negatif,” pungkasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here